Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mengusulkan perubahan penempatan gerbong khusus perempuan pada rangkaian kereta api setelah insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL pada Senin (27/4). Usulan tersebut muncul sebagai respons atas tingginya jumlah korban perempuan dalam peristiwa nahas tersebut.

Menurut Arifah, posisi gerbong perempuan yang saat ini berada di bagian depan dan belakang rangkaian dinilai perlu ditinjau ulang. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan diskusi dengan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI), penempatan tersebut awalnya bertujuan untuk menghindari penumpukan penumpang. Namun, melihat dampak kecelakaan yang terjadi, ia menilai penempatan di tengah rangkaian bisa menjadi alternatif yang lebih aman.
Dalam keterangannya di RSUD Bekasi pada Selasa (28/4), Arifah menjelaskan bahwa jika gerbong perempuan berada di tengah, maka potensi risiko fatal akibat benturan langsung dari depan maupun belakang dapat diminimalkan. Ia mengusulkan agar gerbong laki-laki ditempatkan di bagian ujung depan dan belakang sebagai bentuk perlindungan tambahan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mengusulkan perubahan penempatan gerbong khusus perempuan pada rangkaian kereta api setelah insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL pada Senin (27/4). Usulan tersebut muncul sebagai respons atas tingginya jumlah korban perempuan dalam peristiwa nahas tersebut.
Data sementara menunjukkan bahwa korban dalam insiden ini didominasi oleh perempuan. Tim SAR melaporkan bahwa sebagian besar korban yang berhasil dievakuasi berasal dari gerbong khusus perempuan. Hal ini semakin memperkuat urgensi evaluasi kebijakan penempatan gerbong tersebut.
Arifah juga mengungkapkan bahwa di RSUD Bekasi terdapat tiga korban meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dengan berbagai tingkat keparahan. Secara keseluruhan, hingga pukul 08.45 WIB, jumlah korban meninggal mencapai 14 orang, sedangkan korban luka tercatat sebanyak 84 orang.
Kementerian PPPA tidak hanya fokus pada penanganan medis korban, tetapi juga memberikan perhatian pada aspek pemulihan psikologis. Arifah menegaskan bahwa trauma akibat kecelakaan seperti ini tidak bisa dianggap sepele, sehingga pendampingan mental menjadi bagian penting dalam proses pemulihan korban.
Selain itu, ia juga mendorong perusahaan tempat para korban bekerja untuk memberikan kebijakan yang lebih fleksibel. Menurutnya, para pekerja yang terdampak membutuhkan waktu yang cukup untuk memulihkan kondisi fisik dan mental sebelum kembali beraktivitas seperti biasa.
Insiden tragis ini bermula dari tabrakan antara KRL dan sebuah taksi listrik di perlintasan kereta api, yang kemudian menyebabkan gangguan pada perjalanan kereta lainnya. Dalam kondisi tersebut, KRL yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur kemudian tertabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan parah, terutama pada gerbong perempuan di bagian belakang. Dampaknya sangat fatal dan menimbulkan banyak korban jiwa serta luka-luka.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting akan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi publik, termasuk kebijakan yang selama ini dianggap sudah memadai. Usulan perubahan posisi gerbong perempuan diharapkan dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk mengurangi risiko serupa di masa mendatang.















