YumnaMagz.id – Raksasa fesyen asal Swedia, H&M, kembali melakukan penyesuaian strategi bisnis global di tengah perubahan tren belanja konsumen dan persaingan yang semakin ketat di industri fast fashion. Perusahaan tersebut mengumumkan rencana penutupan sekitar 160 gerai di berbagai negara sepanjang tahun 2026, sembari membuka sekitar 80 toko baru di lokasi yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi bisnis yang sedang dijalankan H&M untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat posisi mereka di pasar fesyen global yang terus berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tantangan berupa perlambatan penjualan, perubahan perilaku konsumen, serta meningkatnya dominasi platform fesyen berbasis digital.
Strategi Restrukturisasi Jaringan Toko H&M
Penutupan ratusan toko tersebut bukanlah kebijakan yang berdiri sendiri. Sejak 2019, H&M telah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap jaringan gerainya di berbagai negara. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, perusahaan tercatat telah menutup hampir 1.000 toko secara global.
Pada masa puncak ekspansinya, H&M memiliki lebih dari 5.000 gerai yang tersebar di berbagai pasar internasional. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan belanja membuat perusahaan harus menyesuaikan model bisnisnya. Kini, jumlah toko fisik H&M terus berkurang seiring meningkatnya fokus terhadap kanal penjualan digital.
Manajemen perusahaan menilai bahwa optimalisasi portofolio toko menjadi langkah penting agar investasi dapat difokuskan pada gerai unggulan yang mampu memberikan pengalaman belanja lebih baik bagi pelanggan.
Penjualan Online Menjadi Prioritas
Salah satu faktor utama di balik keputusan tersebut adalah pertumbuhan signifikan sektor e-commerce. Saat ini, sekitar 30 persen pendapatan H&M berasal dari penjualan online. Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak konsumen yang memilih berbelanja melalui platform digital dibandingkan datang langsung ke toko fisik.
Perubahan perilaku konsumen ini mendorong H&M untuk mempercepat transformasi digital. Perusahaan terus mengembangkan layanan belanja online, memperkuat integrasi anatara toko fisik dan platform digital, serta meningkatkan pengalaman pelanggan melalui teknologi yang lebih modern.
Strategi omnichannel juga menjadi fokus utama. Dengan pendekatan ini, pelanggan dapat menikmati pengalaman berbelanja yang lebih fleksibel, mulai dari memesan produk secara online hingga mengambil barang langsung di toko tertentu.
Persaingan Ketat Industri Fast Fashion
Di tengah upaya pemulihan bisnis, H&M juga menghadapi tekanan besar dari para kompetitor global. Industri fast fashion saat ini mengalami persaingan yang sangat dinamis, terutama dari perusahaan-perusahaan yang mampu menghadirkan tren terbaru dengan harga kompetitif.
Salah satu pesaing utama H&M adalah Inditex, grup fesyen asal Spanyol yang menaungi merek Zara. Selain itu, platform fesyen online seperti Shein juga semakin agresif memperluas pangsa pasar internasional dengan menawarkan produk berharga murah dan koleksi yang diperbaharui dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat H&M harus bergerak lebih cepat dalam merespons perubahan tren mode dan kebutuhan konsumen. Perusahaan berupaya mempercepat rantai pasok agar proses produksi hingga distribusi dapat berjalan lebih efisien.
Modernisasi Toko dan Komitmen Keberlanjutan
Selain memperkuat bisnis digital, H&M juga terus melakukan modernisasi pada sejumlah gerainya. Konsep toko baru dirancang oleh modern, nyaman dan terintegrasu dengan layanan digital guna meningkatkan pengalaman pelanggan.
Tak hanya itu, perusahaan juga mempertahankan komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan. H&M terus memperluas penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan dalam proses produksi serta mengembangkan program daur ulang pakaian yang telah dijalankan di berbagai negara.
Langkah ini dinilai penting karena semakin banyak konsumen yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan sebelum membeli produk fesyen. Kesadaran terhadap isu lingkungan kini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pembelian di pasar global.
Peluang Pertumbuhan Masih Terbuka
Meski melakukan penutupan toko di sejumlah wilayah, H&M tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan bisnisnya. Perusahaan masih melihat peluang ekspansi di beberapa pasar strategis yang menunjukkan perkembangan positif.
Gerai-gerai baru yang akan dibuka pada 2026 diprioritaskan berada di kota-kota besar dan pusat perbelanjaan dengan trafik tinggi. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat kehadiran merek di lokasi yang paling potensial.
Sejumlah analis industri menilai bahwa kombinasi antara rasionalisasi toko fisik, penguatan penjualan online dan investasi pada keberlanjutan merupakan langkah yang tepat untuk mempertahankan daya saing H&M. Namun, tantangan untuk kembali mencatatkan pertumbuhan penjualan tetap menjadi pekerjaan besar di tengah ketatnya kompetisi industri fast fashion global.
Dengan transformasi yang terus dijalankan, H&M berharap dapat beradaptasi dengan perubahan pasar dan mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri fesyen dunia.














