Tag: dinaskesehatan

  • Air Serpong Lagoon Tercemar E. coli, 146 Warga Jatuh Sakit

    Air Serpong Lagoon Tercemar E. coli, 146 Warga Jatuh Sakit

    Hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengungkap kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sumber air di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu. Sebanyak 146 warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, mulai dari diare hingga muntah dan gatal-gatal pada kulit.

    Tiga sampel Air Dinyatakan Positif E. coli

    Dinas kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan, Banten, memastikan adanya kontaminasi bakteri E. coli pada air yang digunakan warga Perumahan Serpong Lagoon. Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan terhadap sampel air dari fasilitas water treatment plant (WTP) yang memasok kebutuhan air di kawasan perumahan tersebut.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel, Fitria Oriza, menyampaikan bahwa seluruh tiga sampel yang diperiksa menunjukkan hasil positif mengandung bakteri E. coli. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, air dari sumber yang diperiksa dinyatakan tidak layak untuk dikonsumsi.

    Menindaklanjuti temuan itu, Dinkes Tangsel telah merekomendasikan penyegelan fasilitas WTP kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Langkah tersebut ditujukan untuk menghentikan penyaluran air yang terindikasi tercemar dan mencegah bertambahnya risiko paparan terhadap masyarakat.

    Dinkes juga mengimbau warga terdampak untuk sementara menggunakan air kemasan yang aman untuk diminum hingga tersedia kepastian mengenai keamanan pasokan air.

    Sebanyak 146 Warga Mengalami Gangguan Kesehatan

    Laporan mengenai peningkatan kasus diare akut di Perumahan Serpong Lagoon mulai diterima Dinkes Tangsel pada 7 Oktober 2026. Berdasarkan pendataan hingga 13 Oktober 2026, jumlah warga yang mengalami kesehatan mencapai 146 orang.

    Gejala yang dilaporkan meliputi diare, muntah, serta gatal-gatal pada kulit. Keluhan tersebut ditemukan ada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa.

    Kepala Dinkes Kota Tangerang Selatan, Allin Hendalin Mahdaniar, mengungkapkan bahwa 11 orang di antara warga yang terdampak harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

    Balita menjadi kelompok yang paling banyak terdampak berdasarkan pendataan sementara. Kondisi ini menjadi perhatian karena diare dan muntah dapat menyebabkan kehilangan cairan tubuh, terutama pada anak-anak yang lebih rentan mengalami dehidrasi.

    Dinkes menyebutkan bahwa sebagian besar warga yang mengalami gangguan kesehatan telah membaik, sementara sebagian lainnya masih menjalani pemulihan atau mendapatkan penanganan medis.

    Status KLB Belum Ditetapkan

    Meski jumlah warga terdampak cukup besar, Dinkes Tangsel menyatakan bahwa penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) belum dapat dilakukan oleh instansi tersebut karena keputusan berada dalam kewenangan Walikota Tangerang Selatan.

    Kesamaan sumber air yang digunakan warga menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam penelusuran kasus ini. Namun, penanganan tetap membutuhkan pengawasan terhadap kualitas air serta tindak lanjut dari pihak terkait untuk memastikan sumber kontaminasi dan mencegah kejadian serupa.

    Bakteri E. coli merupakan kelompok bakteri yang secara alami dapat ditemukan di saluran pencernaan manusia dan hewan. Akan tetapi, keberadaan bakteri tersebut dalam air minum dapat menjadi indikator pencemaran tinja dan menandakan adanya risiko paparan mikroorganisme penyebab penyakit.

    Warga Diminta Waspada terhadap Keamanan Air

    Peristiwa Serpong Lagoon menjadi pengingat pentingnya memastikan kualitas air yang digunakan untuk minum, memasak, serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari kontaminasi mikrobiologis.

    Warga sebaiknya mengikuti arahan resmi dari Dinkes dan pengelola kawasan, menggunakan sumber air yang dinyatakan aman, serta menghindari konsumsi air dari sumber yang sedang diperiksa. Merebus air dapat membantu membunuh banyak mikroorganisme penyebab penyakit, tetapi tidak menghilangkan seluruh jenis keontaminan kimia.

    Apabila mengalami diare atau muntah berulang, warga disarankan segera mencari pertolongan medis. Tanda dehidrasi seperti berkurangnya frekuensi buang air kecil, mulut kering, lemas berat, atau penurunan kesadaran memerlukan perhatian segera, terutama pada balita.

    Keamanan air bersih bukan hanya persoalan kenyamanan, melainkan bagian penting dari perlindungan kesehatan keluarga. Pemantauan kualitas air secara berkala, keterbukaan informasi kepada warga , dan respons cepat dari pihak berwenang diperlukan agar risiko kesehatan masyarakat dapat ditekan.